Tampilkan postingan dengan label LIFE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LIFE. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Mei 2016

Celengan Bulan Kebalik

Berawal dari baca artikel 8share yang tajuknya keuangan. Aku jadi terinspirasi untuk menabung secara tradisional alias pakai celengan, walaupun aku sendiri juga punya tabungan modern, alias di bank.

Entah kenapa rasanya liat uang di celengan yang bisa kita pantau setiap hari perkembangannya itu lebih real aja. Ketimbang uang di bank yang nilainya gak seberapa (tabungan aku aja kok, kalian pasti jauh lebih banyak) dibandingkan dengan malasnya pergi ke bank atau atm sekedar setor tunai dll.

Jadi ceritanya setelah baca artikel itu, aku terinspirasi melakukannya. Aku namai dengan Celengan Bulan Kebalik. Yang mau tau bisa baca disini atau kalau kalian lebih suka aku yang ceritain, terus baca aja sampai ke bawah.

Celengan Bulan Kebalik

Menggunakan botol bening
dengan tujuan bisa ngeliatin
isinya :P
Aku dan Farah (teman kuliah) punya banyak planning untuk ke depan, yang mau inilah,,,yang mau itulah,,,jadi kami pikir dengan menabung ala Celengan Bulan Kebalik insya Allah bisa memudahkan jalan kami untuk banyak hal itu. Dan pastinya untuk siapa pun yang baca tips menabung ini, asal kita sama-sama punya niat yang kuat menabung.

Bagaimana sih Celengan Bulan Kebalik itu?


Dikasih nama biar gan ketukar
Ini botol yang aku gunakan untuk menyimpan uang. Kalian bisa tukar dengan penyimpan bentuk lain yang kalian suka. Farah lebih milih simpan uang di plastik bening. Dan aku lebih memilih botol, karena enak aja gitu ngegenggamnya #eh.

Kalian akan mulai menabung pada awal bulan. Dimana saldo kalian masih lancar-lancar saja heheheh. Contoh, bulan Mei. Mei mempunyai 31 hari. Jadi untuk bulan Mei kalian menabung selama 31 hari. Tapi gak sembarangan masukin uang ke celengan. Kalian masukin uang sesuai tanggal hari itu, jika tanggal 1 kalian bisa menabung Rp 1000, pada tanggal 2 kalian menabung Rp 2000 dan seterusnya. Tapi karena ini namanya Celengan Bulan Kebalik, maka nominalnya kebalikan dari tanggal. Pada tanggal 1 kalian menabung Rp 31000, tanggal 2 nya kalian menabung Rp 30000, tanggal 3 nya Rp 29000 dan seterusnya sampai tanggal 31, ya nabung Rp 1000 aja.

Jangan lupa buat nama bulannya
biar hapal nama2 bulan :P
Kwkkk, kenapa kebalik sih? Iya emang sengaja gitu. Ini disesuaikan dengan kantong kita yang semakin tanggal tua semakin menipis. Oleh karenanya aku sama Farah sepakat untuk membalik nominal sesuai dengan kondisi perkantongan orang-orang pada umumnya.

Jadi kalau dijumlahkan untuk bulan yang punya 31 hari itu, maka sebulannya akan menghasilkan uang Rp 496000, kalau kalian konsisten.  Lumayanlah, sebulan bisa nabung setengah juta. Cuma dari hasil sisa-sisa jajan.

Tapi, kalau pake botol bukannya bisa dibuka ya? Diambil uangnya eh belum akhir bulan udah habis tuh uang?

Bagi yang takut kejadian ‘ngebobol celengan sendiri’ terjadi, kalian harus punya teman yang bisa menghentikan niat buruk itu. Caranya, bagi kami (aku dan Farah), tidak menyimpan botol atau plastik masing-masing. Botol aku akan disimpan Farah, dan sebaliknya plastik Farah akan aku yang pegang. Karena kalau pegang atau bawa barang orang kita akan lebih aware dan gak sembarang pake. Kecuali kalian emnag brutal abis sih. Tapi kurang lebih ini bisa dicontoh. Jadi kalian cari kawan yang bisa ikut nabung juga. Positifnya kalian ikut menebarkan virus kebaikan kan? Dengan cara ngajak orang lain Menabung untuk masa depan, untuk biaya melamar anak orang #eh.

Mumpung masih awal bulan, kalian bisa coba. Aku sendiri sebenarnya baru coba bulan ini. Baru berjalan dua hari. Kalau kalian mau coba juga, jangan lupa komen disini, entar akhir bulan Mei, kita kirim foto botol-botol kita yang sudah terisi Rp 496000, untuk aku review lagi di blog. Terus kita semacam menggalakkan lagi menabugn dengan cara tradisional. Keren gak tuh?




Ditunggu ya komennya. Sampai jumpa bulan depan J Salam Bulan Kebalik !

Kamis, 14 April 2016

Nyeritain Teman #3

Lain tempat lain lagi ceritanya. Ada masa satu tahun dimana aku gak begitu intens ketemu Butterfly Action dan akhirnya membuat aku punya pilihan sendiri. Karena udah ngerasa dewasa aja, jadi udah bisa menentukan aku mau nya apa dan gak ikut-ikut teman lagi.Aku masuk MAN 1 Medan, dan mulailah kami bertebaran di sekolah-sekolah negeri keceh kota Medan.

Disini lain lagi ceritanya. Aku yang selalu kurang menyukai ospek dan suasana baru lagi-lagi merasa ini agak susauh dijalani. Overall, bisa terselamatkan dari tips Memulai Pertemanan dari majalah. Awali dari hal yang kalian suka. 

Waktu itu aku lumayan menggandrungi dunia pesepak bolaan. Sekarang aku udah gak ingat lagi apa-apa tentang itu. Itu lagi kemaruk piala dunia aja itu makanya bisa segila itu. Dan akibat dari mencintai football teman aku ya, cowok kebanyakan. Namun sisi introvert masih melekat abis di aku.
Sampe akhirnya aku masuk kelas hmmm kami bilangnya kelas Unggulan. Jadi hanya ada 20 siswa di dalamnya. Pergi pagi pulang sore. Yang awalnya aku mau masuk organisasi UKS jadi keluar karena jadwal kelas yang padat. Fasilitas IT lumayan lengkap di kelas jadi buat beberapa siswa malas keluar termasuk aku. Aku gak banyak bersosialisasi, paling kenal dengan teman di kelas yang dulu sebelum kelas sekarang. atau kenal sama yang dulu anak MTSN juga. Tapi kami sering dikenal dengan sebutan ‘Anak Uggulan’ jadi gak heran kalau ada siswa reguler yang kenal aku walau aku gak pernah kenalan secara langsung dengan mereka #bukan somsek. Ya contohnya Bibeh la. Ya kan Beh, dan masih banyak yang lain.

Sampai akhirnya teman satu kelas namanya Icut. Si Icut bawa-bawa novel Harry Potter. (Oya aku juga suka Harry Potter)

“Cut, punya siapa tuh? Isy pinjam la.”
“Bukan punya aku Ki. Punya kawan aku. Nanti lah aku bilang.”
(kurang lebih kayak gitulah percakapannya)
Savrizal lagi cosplay si Cecep
Sampe akhirnya aku kenalan sama empunya novel, Savrizal. Tips dari majalah (apa lah itu namanya), Awali dari hal yang kalian suka berhasil! Kita akhirnya kenal dan jadi suka sharing hal-hal yang ternyata banyak banget yang sama.

Nah, aku sendiri awalnya suka Harry Potter karena filmnya. Lalu tau ada novelnya, terus coba baca bukunya. Aku yang sama sekali jarang dan malas baca akhirnya suka baca. Well, ini amazing. Ini ada kaitannya dengan yang aku lakoni sekarang.

Oke balik lagi ke Savrizal. Savrizal sosok slengekan yang suka baca. Humble tapi suka baca. Bocor tapi suka baca. Kan gile tuh. Jadi kita dulu sering nongkrongnya di Gramedia. Aku heran juga dengan tampilan ni anak tapi suka baca. Akhirnya aku mau gak mau karena kita katakanlah ibarat udah temanan dan sahabatan buat aku suka BACA juga.

Aku cuma punya ke 1 dan ke 2
Bacaan dia gak tanggung-taggung. Bukan sekedar majalah anak remaja dengan bahasa ringan. Tapi waktu itu aku ingat dia suka Secret, Quantum Ikhlas, kalau pun sekalinya novel sekelas PS I Love You. Yah, apapun judulnya aku lebih menilai kepada kemauan membacanya. Buat aku suka baca itu amazing. Karena kalian tau Baca itu awal. Awal dari kalian tau segalanya. Baca itu awal, awal ayat diturunkan juga kan.

Karena dulu suka filmnya, aku koleksi vcd nya
Oh ya, kejadi serunya itu gini. Katakanlah waktu itu aku emang belum ngerasa baca itu nikmat. Jadi aku suka minjam buku buat dibaca ke Savrizal. Dan ceritanya Savrizal udah beli The Half Blood Prince (novel Harry Potter ke 6) harganya 200 ribuan klo gak salah. Dengan sok kecantikan kemana-mana bawa novel itu. Jadi waktu sholat dzuhur dibawalah juga novel itu ke mesjid. Lalu dengan lenggang kangkung balik ke sekolah tanpa membawa apapun. Baru ingat sorenya. Yaudah lah, raib. Harry Potter and The Half Blood Prince harga 200ribuan diliangin sama si Lulu. Tapi besoknya aku ganti, kkkwkw.

Ijal dan Ceweknya (Entah yang ke berapa)
Selain membaca, banyak banget hal yang sama dan seru lainya. Ikutan kuis dari radio yang hadiahnya vcd lagu penyanyi favorit hahaha, nge-request lagu favorit biar masuk top chart, datang ke radio favorit untuk ketemu penyiar favorit hahaha ada-ada aja tingkah pola anak baru puber.

Tapi dari semua, membaca yang paling buat aku bialng “Makasih Jal udah jadi orang yang memperngaruhi aku untuk ngelakuin itu.”

Oh ya aku hampir lupa. BLOG. Yup, beliau juga menginspirasi aku untuk punya personal blog. Awalnya dari dia yang suka posting catatan, lagu dan chart terbaru di blognya. Sampe akhirnya aku terpikir ngelakuin hal yang sama.

Tuh kan, sampe sini ternyata banyak banget hal-hal dulu yang berkaitan ke diri kita yang sekarang. jadi salah lah kalau ada lagu dangdut yang liriknya begini Masya lahluuuu, biarkanlah berlaaaaluuuu. 

Savrizal sekarng sibuk dengan new PRSU nya. Aku gak ngerti dia di bagian apa, tapi sukses ya Jal. Dan sampe ntar 17 April tutup, aku juga belum ada dan belum pernah ke PRSU selama hidup aku. hehehe sorry.

Nyeritain Teman lainnya
Nyeritain Teman #2
Nyeritain Teman #1

Nyeritain Teman #2

Aku masuk MTs yang sama dengan Dini. Satu alasannya adalah karena Dini. dan Abah punya alasan lain yang akhirnya bisa aku contek ketika ditanya orang kenapa sekolah di MTs Negeri 1 Model Medan. Gak lucu lah ditanya “kok masuk MTsN?” “Iya, karena Dini.” Paling gak aku bisa jawab, “Yah, karena MTsN 1 Medan adalah sekolah percontohan.”

Dari MIS ULUMUL QURAN cuma kami berdua yang lulus disana. Dan hasil pengumuman menyatakan kita positif beda kelas. Disitu aku mulai belajar untuk mencari teman baru. Karena Dini sudah di kelas lain dan pastinya dengan dia yang humble bisa punya teman baru.

Pertama masuk sekolah aku datang paling cepat. Aku yang emang dari dulu suka duduk di depan memilih duduk di depan. Setelah dari kelas ternyata ada acara ospek-ospekan. Ini ritual yang paling aku gak suka sampe sekarang. Entah karena aku yang susah berteman sehingga ospek yang tujuaannya “Perkenalan” membuat aku mikir ‘apa sih! Entar kan juga kenal di kelas.’ Dan acara ospek ini yang buat bangku yang udah kupilih pagi-pagi tadi diambil sama komplotan cewek-cewek dengan tinggi lumayan yang dulunya mereka satu sekolah dan b!@#$%&*(. Akhirnya aku ngalah dan duduk di belakang. Di hari Seninnya, wali kelas masuk dan mulai mengatur ulang posisi duduk. Keadilan akhirnya berpihak ke aku. Aku mendapatkan tempat duduk yang dari awal aku idam-idamkan. Karena badan dan tinggi aku yang kecil bahkan terlalu kecil di mata wali kelas. #makasih Buk #nunduk.

Disni lah mulai aku ketemu Nurul aka Nyaik.  Jadi Nyaik termasuk diantara cewek-cewek yang ngerebut bangku aku waktu itu tapi karena badannya gak jauh beda dari aku, dia tetap dipertahankan, dan akhirnya jadi orang yang paling dekat se MTsN 1 Medan dengan aku. Waktu ospek sebenarnya aku udah ngeliatin nih anak mulu, karena pembawaannya yang kalem, kayaknya baik dan !@#$%^&*( eh gak taunya kita sebangku eh semeja.

Masa-masa MTsN emang masa-masa dimana aku puas berteman. Ala-ala bikin gank segala, ada kelompok tari modern segala lagi wkkwkw, udah mulai nakal-nakalnya, hahahha dan ritual-ritual tembak menembak di kalangan teman-teman aku. Tapi yah wajar lah masa puber gak terelakkan gitu.

Ini foto kumpul kemarin. Nyaik di Jakarta gak datang.
Aku bawa tulisan "Saya Jomblo"
Kita punya gank yang namanya Butterfly Action. Hahahha selain nama kita juga punya ritual cara nyebutinnya, kkwkw kocak abis dah. Apa nanti waktu reuni dibuat aja ya videonya, biar bisa jadi bahan bukti kalau gaya ini paling euh di zamannya. Terdiri dari lima orang, yaitu Mita, Ami, Dini (eh ketemu lagi), Nyaik daaaan Lulu. Itu diurutkan berdasarkan tanggal lahir kita. Jadi ketahuan kan siapa yang paling unyuk-unyuk diantara yang berlima itu. kenapa ceritany ada Dini lagi. Iya, ternyata kita punya selera teman yang sama walau udah terpisah kelas. Jadi ceritanya Aku dan Dini teman dari SD, Mita dan Nyaik juga temean dari SD, Nyaik sekelas dengan aku, Dini sekelas sama Ami, jadi bertemula kami dalam lingkara setan eh sahabat. Aktu istirahat kita saling kenal-kenalin teman-teman yang dulu pernah sekolah bareng dan terjalinlah Butterfly Action.

Spesialnya Nyaik di mata aku. Jadi dunia tulis menulis ini Nyaik yang kenalin. Waktu itu aku benci banget puisi, aku selalu nganggap orang yang nulis puisi itu lemah. Sampe akhirnya pelajaran bahasa Indonesia nugasi kita unutk buat puisi. Nyaik yang punya sens seni tinggi keasikan karena disuruh buat puisi. Aku langsung kejang-kejang aktu dapat tugas. Nyaik bahkan punya buku yang isinya puisi dia. aku mau gak mau waktu itu baca juga -_- katanya dia mau jadi penulis. Aku waktu itu mikir, apa ada nulis dijadiin pekerjaan. Ya itu waktu aku masih bocah dodol. Sampe Nyaik buat-buat lagu segala dari puisinya, -_- dan aku disuruh baca puisinya -_- ini cobaan banget ya waktu itu.

Entah gimana caranya (aku lupa), Nyaik memotivasi aku. Akhirnya mau gak mau tugas membuat puisi harus kelar. Dengan imbalan bu Guru bilang puisi terbaik akan di pampang di mading sekolah. Dengan perenungan yang mendalam aku pun mencoba menggoreskan pena, ceileh. Dan ketika dikumpul, biasalah anak SD kan suka goda-godain temennya kayak gini “Pasti nanti puisi Nyaik yang dipajang, kan puisi Nyaik bagus,” kataku. “Isy, gak lah, kayakya punya Lulu lah. Puisi Lulu juga bagus,” balas Nyaik. Begitulah cara kami mencoba menyemangati, tuduh-tuduhan siapa yang paling bagus.

Ini yang namanya Nyaik aka Nurul.
Nyaik hampir bisa menggenggam matahari.
Berselang banyak hari, kita suka lewat-lewat dimana mading di pajang, niatya mau liat puisi siapa yang dipajang. Kalau lewat matanya curi-curi pandang ke mading. Kayak mata orang nyontek gitu. Padahal pengen banget ngeliat tapi gengsi. Malu ketahuan siapa yang ngebet kali dipajang puisinya. Tapi aslinya emang gini kan ya ceritanya, atau gimana? Aku agak amnesia. Singkat cerita aku shock. Puisi aku dipajang yeeeeeeee. Disini aku mulai suka nulis puisi, baca puisi, mulai suka mading, buat mading paling cihuy dulu, dapet nilai tinggi mading dan tukar-tukaran puisi sama Nyaik, bahkan ada yang kita buat lagunya, udah lupa sih gimana gak tau Nyaik masih ingat atau belom.

Yang jelas, ini yang aku judulin dengan Nyeritain Teman. Setelah aku  ngerenung banyak tentang kehidupan aku. Satu-satu punya banyak kaitan dengan siapa yang ada dalam hidup aku. Makasih banyak sayang, Nyaik. Terkhir kali kita ketemu di nikahan Nyaik. Nyaik sekarng tinggal di Tangerang Selatan, aku gak tau dimananya, dan dia udah punyausaha fashion. Love you.

Nyeritain Teman lainnya di Nyeritain Teman #3 dan Nyeritain Teman #1


Nyeritain Teman #1

Yah, setiap lagi mandi ide-ide suka bermunculan. Mungkin ini yang dimaksud mbak Dee, di setiap mau nulis harus bersih-bersih dulu, mandi dulu, beresin rumah dulu, jadi nulis dalam keadaan fresh. Terima kasih mbak, sudah menginspirasi.

Jadi postingan kali ini aku mau Nyeritain Teman-Teman aku. Teman-teman yang selama ini sudah banyak mempengaruhi aku. Mulai dari TK sampe sekarang lah ya. Walau tidak menutup kemungkinan bisa berkenalan dengan teman-teman baru lagi, teman-teman yang seru lagi, dan terutama teman hidup #eh.

Yup. Selagi menunggu hasil Stifin apakah aku extrovert atau introvert, aku sendiri pernah mencetuskan bahwa aku seorang introvert. Tapi terkadang aku juga heran introvert kok suka alay seperti aku. Tapi ya sudah lah ya, kita berangkat dari pemahaman aku yang introvert #versi aku.

Dengan pengakuan itu ternyata aku punya teman-teman yang seru hahaha. Walau mungkin aku gak se-seru mereka. Tapi karena mereka, aku juga dianggap seru oleh orang lain, wkwkkw. Temen-temen aku juga cantik-cantik, pinter-pinter, famous bahkan. Aku harus berterima kasih ke mereka, karena mereka aku juga ikut-ikutan DIANGGAP (siapa?) cantik, pinter, famous kwkkwkw.

Foto dengan tampang dingin begitu
cukup menjadi bukti kenapa gak ada
yg mau temenan #makasih
Alhamdulillah di zaman aku kecil, TK alias Taman Kanak-Kanak sudah ada, jadi sebelum masuk SD aku di TK-in dulu. Dua tahun. Dan aku ingat banget, TK aku belum ngerti apa arti teman. Sekalinya ada saudara yang satu TK malah bukan dijadiin teman tapi berantem mulu (Ingat Nop?). Kalau main kayaknya aku main sendiri. Suka kelilingin sekolah sendiri #mikir_keras. Iya, kayaknya aku sering sendiri. Aku ingat waktu itu aku ke lantai dua sekolah dan dari lantai dua aku ngeliat teman-teman yang main di halaman sekolah. Jadi itu yang sering aku lakuin waktu istirahat. Sampe akhirnya ada kejadian kayak gini. Saking seriusnya ngeliatin teman-teman main aku masukin kepala di jerajak atau pagar pembatas. Kan ada tuh sela-selanya, jadi aku ngeliat dengan khusyuknya masukin kepala di sela-sela pagar dan ngeliatin teman main dari lantai dua. Bel sekolah bunyi, itu yang bikin panik. Aku buru-buru ngeluarin kepala dari sela-sela itu dan yah, dengan kepanikan kepalaku nyangkut. Lantai dua sunyi. Dan aku makin panik. Yah ending-nya ya pasti lah bisa dikeluarin, klo gak ini sekarang pagar nempel terus dah di kepala. Gimana ngeluarinnya? Pagar dihancurin sama pihak sekolah, gak gak gak,,,becanda. Gak tau kenapa bisa aja gitu. Mungkin celahnya match aja sama kepala aku jadi akhirnya bisa keluar, yeah.

Ini mau di-skip aja gak ya, karena temannya belum ada waktu TK. Kalua pun ada bersambung ke SD karena lumayan banyak yang satu sekolahan TK masuk ke SD yang sama. Skip aja lah ya...bagi yang gak tau skip itu artinya apa, artinya  'lompatin'.

Oke, di SD aku masih kelihatan gak punya temannya, masih suka ngelilingin sekolahan sendiri, dan ngelamun sendiri, gak juara kelas dan emang belum percaya diri sepertinya. Dan semua itu terhenti saat aku mulai kelas tiga. Aku mulai berteman. Ada Dini yang cantik dan juara kelas. Butet yang rumahnya dekat sekolah sekarang udah tinggal di Malaysia dan punya anak satu. Udin yang mamaknya jualan misop dekat sekolahan. Lisdah & Dimas yang sering di-bully jadi pasangan juga anak orang kaya. Sandy anak pindahan dari Jawa yang nembak Dini waktu itu. Nurul yang pernah diangkat kakinya ke atas dan kepalaya di bawah terus diguncang-guncang sampe uang recehan di kantongnya jatuh semua dan pelakunya  aaahhh sudahlah, guru paling kami takuti dulu. Koto, Ilham, Surya, Khadafi yang paling-paling preman di kelas, gimanalah kabar mereka ya sekarang, dulu  jogalya kebangetan. Dan Zebua (marga orang Nias) aku lupa nama depannya siapa tapi dulu aku sering manggilnya begitu karena baru itu ada anak Nias yang kami jumpa, orang yang pertama kali kutampar saking songongnya. Sok keras kali kan ya aku dulu. Tapi segimana-gimananya anak SD berantem, gak tau tiba-tiba udah temenan aja gitu waktu main. Gak kayak sekarang ya kan, klo musuhan ya musuhan aja.

Ini kemarin  Dini waktu ultah 25.
Happy Birthday :*
Jadi ceritanya Dini si Juara kelas dan cantik adalah sahabat aku. Bukan teman lagi, tapi udah jadi sahabat. Kalau pepatah bilang berteman dengan tukang parfum, dapet wanginya. Berteman dengan pandai besi kecipratan apinya. Dan berteman dengan Dini buat aku juara 3 besar wkwkwk. Dan bahkan sekali atau dua kaliaku juara satu, ngalahin si Dini. Terus kalian mau bilang aku nyontek ke Dini kan? Iya? Ahhahah. 
Dari dulu aku memang gak pernah suka dengna praktik ini, tapi sadar atau gak, sengaja atau gak sengaja mungkin perah ngelakuinnya. Tapi gak semata-mata nyontek juga #pembelaan. Jadi karena Dini yang berprestasi membuat aku jadi suka belajar juga, sampe aku ikut-ikutan les di kursus yang sama, lalu masuk MTsN (SMP) yang sama dan kami kuliah di jurusan yang sama #yang ini kebetulan. Well, dan aku emang begitu sekalinya punya teman atau sahabat, aku suka terpengaruh dengan apa-apanya mereka. Selain pinter, Dini itu humble punya banyak teman, jauh banget sama aku yang cuma klik sama satu orang aja yang bakal aku cakapin. Dan itu yang akhirnya buat aku banyak teman, yah karena Dini banyak teman. wkwkkwkw. Perbandingannya gini kalau ada tiga orang sedeng diskusi, yatiu aku, Dini dan Erni (misal) diskusi serius, ketawa-ketiwi, tapi klo Dininya pergi aku bisa grogi dan tiba-tiba kehilangan bahan ngobrol ke Erni. Begitulah aku.

Dan Dini banyak mempengaruhi kehidupan aku sampe sekarang. Ini yang aku kasih judul Nyeritain Teman itu ya ini. Intinya kehidupan aku banyak banget dipengaruhi sama orang-orang yang Allah kirim untuk mengubah aku jadi lebih baik, mengantarkan aku jadi yang sekarang.  mulai  suka belajar, mulai mau berteman. Buat Dono, makasih yo. Cepat nikah, jawaban tiga pertayaanmu di voice note bbm udah kujawab tapi belum kuposting videonya.


Oh ya satu kejadian, yang aku gak tau Dini masih ingat atau gak. Jadi kita pernah slek. Marahan  (waktu SD) jadi kita gak mau bareng. Dan teman-teman salah satunya si Butet berusaha meyatukan kita lagi (itu aku lupa penyebab kita marahan apa). Jadi ktia itu diperlakukan seperti suami istri deh sama si Butet. Sampe dibuatin surat palsu yang ujugn-ujungnya mempertemukan aku dan Dini lagi, wkwkkw, ada-ada aja ya. 

Masih ada lanjutan di postingan selanjutnya Nyeritain Teman #2 yeah....

Minggu, 27 Maret 2016

Lulu Menjawab #1

Assalamu;alaikum...terima kasih untuk pertanyaan-pertanyaan yang sudah dikirimkan (secara terpaksa) kepada ku. Dan kini saatnya,,,Jawab-Jawab.

Sorry banget untuk postingan yang terlalu lama. Banyak pertimbangan untuk postingan kali ini dan gak perlu aku ceritain panjang lebar. heheheh...

Oke, sebelumnya tulisan ini dikasih tagline “Lulu Menjawab”. Secara ini tulisan terinspirasi dari hal yang buat kalian semua pasti merasa, ‘Dasar Lu sok keartisan banget seh!’ atau ‘Sok terkenal kali kau’ ya kan. Dan latar belakang kejadian ‘minta-minta’ kalian untuk kasih pertanyaan itu terinspirasi dari vlog para youtuber yang sering bikin sesi ‘Mail Time’nya Laurentinus atau ‘Jawab-Jawab’nya Raditya Dika,  atau ‘Questions’nya Charlie Puth dan masih banyak lagi video serupa yang mau aku adaptasi di tulisan ini.

Jadi gini, aku punya pikiran bahwa kelihatannya seru (versi aku) untuk bisa jawab pertanyaan orang lain tentang kita. Gak mesti artis, penulis, atau penyanyi terkenal yang dikirimin email segudang pertanyaan dari para fans, tapi ya kita-kita juga bisa. Caranya ya kalian tinggal suruh teman-teman kasih pertanyaan tentang kalian, dan buat sendiri videonya. Gampang kan!

Manfaatnya buat apa? Sangat bermanfaat bagi yang lagi latihan interview hehehehe. Salah satu manfaatnya biar blog kalian lebih komunikatif dengan pembaca.

Pertanyaannya-pertanyaan yang aku dapat rata-rata dari whatsapp dan bbm, ada juga dari facebook dan instagram. Ini rencananya mau dibuat video sih, tapi karena memori bermasalah tuk divideokan jadinya yah apa adanya aja lah. Dan kemampuan editing video payah, jadi sekali lagi, seadanya aja ya.

Pertanyaan pertama dari Jannah. Teman dari masuk organisasi kampus dulu dan berteman akrab sampai sekarang. Jannah udah nikah, dan aku belom #nunduk. Mau tau apa yang ditanya Jannah dan jawaban aku klik "Lulu Menjawab" #Jannah


Pertanyaan kedua dari Adjie. Dia juga teman di organisasi dulu, dan sekarang lumayan jarang jumpa juga. Ini pertanyaanya mengarah pada masa depan ya Djie, boleh lah. Cuma mau bilang, "Kalian aku minta untuk kasih pertanyaan ya bukan hinaan -_-" salah satunya kayak gini "Lulu Menjawab" #Adjie


Pertanyaan ketiga dari Kak Irda. Kakak ini mulai kukenal akrab karena satu pengajian, padahal dulunya kami satu sekolah. Kak Irda kayaknya udah mulai kepo ya,,,nih buktinya "Lulu Menjawab" #Irda

Pertayaan selanjutnya dari bang Molen. Kita juga udah kenal lama sejak di organisasi kampus dan pernah kerjasama bareng di beberapa buku nonfiksi. Sekarang beliau di Jakarta membentangkan sayapnya di dunia usaha konveksi, cuitcuit...dan bang, awak minta maaf belum bisa upload videonya, karena video yang untuk abang semuanya bermasalah,,,gak tau,,,nanti aak usahakan.

Aku posting jawaban untuk tiga penanya dulu yah. Masih ada pertanyaan dengan jawaban spektakuler lainnya ahhahahah....videonya kurang greget, masih malu-malu.

Dan ini salah satu Out Of The Box yang paling gak terpikirkan aku sebelumnya. Agak alay dan aneh gini ya. Oke, jangan lupa komen. Lagi latihan editing video juga.

Senin, 21 Maret 2016

Postingan Spiritual

Assalamu’alaikum...jadi rencanaya mau ngerapel postingan, kalau sempat...

Belakangan ini gue sempat berfikir kenapa gue jarang posting tulisan tentang spiritual. Kalian nyadar gak sih? Gak ya,,,atau ada yang nyadar? Bague deh. Hm, sebagai umat beragama dan sebagai orang yang menyukai menulis (sebagai media dakwah) kenapa gue jarang sekali menulis tentang itu belakangan ini. Lebih banyak menulis tentang kehidupan gue yang galau. Hm.

Ya, ini sebenarnya juga lagi galau. (sadar  karena paragraf diatas)

Apa ya, gue takut salah, gue takut gue sok tau, mungkin gue terlalu lancang, atau takut ria. Ck, kacau ya pirikiran gue. Tapi apapun itu gue masih nyaman ketika gue share postingan orang lain tentang spiritual, ketimbang tulisan gue sendiri, karena gue belum mumpuni.

Tapi sekedar untuk mengikat ilmu versi om Hernowo gue akan ngelakuinnya.

Jadi waktu pertama kali mengaji di Al Ittihad, ustadz Fauzi yang membawakan kajian Fiqh. Dan subhanallah, ngantuk pun buyar karena intonasi suaranya yang menggebu-gebu. Padahal itu jam 10 malam, dan kalian tau paginya aku full ngampus, pulang ke rumah mandi dan lagsung pergi lagi ba’da Isya. Alhamdulillah. Badan yang kebanyakan orang bilang ceking ini dikasih Alloh kemudahan.

Imam besar fiqh mazhab Syafi’i adalah Imam Nawawi. Jika ada perbedaan pendapat, maka Imam Nawawi sering dilawankan dengan Imam Rofi’i, dan jika ada perbedaan pada Imam Romli maka akan dilawankan dengan pendapat Imam Ibnu Hajar Haitami. Betul kan ya..,kalau salah koreksi aja ya. Nah jika terjadi perbedaan pendapat pun pada imam-imam yang masih pada mazhab Syafi’i, maka masih dapat dipakai salah satu diantaranya.

Salah satunya terjadi pada bab Buang Hajat. Imam Rofi’i berpendapat adapun adab buang air lima, diantaranya memakai sendal, menutup kepala, masuk kaki kiri, keluar kaki kanan, dan tidak membaca baca-bacan dengan lafaz Allah. Lalu Imam Nawawi menambahkan satu ada lagi yaitu jangan berbicara saat buang hajat.

Lalu pada bab Haidh, Imam ghozali membolehkan memotong kuku dan rambut saat haidh. Walau pendapat yang lain tidak membolehkan. Ini bisa dipakai, walau Imam Ghozali menyatakan kuku dan rambut yang dipotong itu dikumpulkan dan dimandikan saat mandi wajib.

Nah, sampai disini gue udah was-was, takut-takut ada yang salah. Mohon koreksi bagi yang baca. Oke ini yang gue bilang ‘mengikuat ilmu’ diatas. Artinya adalah kita menulis dengan tujuan untuk mengingat. Mengingat hal-hal apa yang kita alami dan pelajari selama ini.

Lanjut sedikit lagi ya. Dan bagi yang baru tahu seperti gue. Imam Nawawi itu seorang Faqih, ahli Fiqh. Dan Imam Ghazali itu selain seorang Sufi, beliau juga Faqih. Dapat dilihat dari kitab-kitab mereka yang membahas Fiqh dan Tasawuf. Mana tau kita dengar/baca pendapat-pendapat para imam tapi kita gak tau ahlinya imam itu dimana, bisa salah pakai pendapat. Atau setidaknya kita harus kenalah dengan beliau, tidak hanya sekedar mengikut, dan kita tau siapa saja ulama-ulama yang masuk dalam jajaran mazhab Syafi’i.

Banyak lagi isi pengajian malam itu, tapi apa daya si fulanah ini, tak mampu merangkaikannya dalam postingan ini.

So, itu pertama kalinya gue ngaji malam minggu dan sampe selarut itu. akhirnya malam mingguan juga ya heheheh. Kenapa nekat untuk pergi mengaji sampai selarut itu, karena itulah waktu yang ‘kebetulan kosong’. Inilah sombongnya manusia. Mengaji (belajar agama) yang wajib hukumnya tapi malah di waktu-waktu yang luang. Bukan di waktu-waktu yang memang sudah dijadwalkan (kegiatan utama). Ngaji kalau sempat. Yang disempatkan itu reuni, ngafe, nonton, tidur banyak-banyak, gayanya hunting makanan ntah kemana-mana, trip campur laki perempuan yang jauh-jauh, astaghfirullah. Susah bilang lah klo gini. Tapi, rukun iman, rukun islam tau gak apa isinya? Shalat, rukunnya apa saja? Mandi wajib gimana ngelakuinnya? Tau gak. Khatam alquran udah berapa kali seumur hidup? Jawab aja di hati kita masing-masing.

Apa kita gak takut dengan azab Allah? Kematian? Kiamat? Neraka? Gak kepingin masuk surga apa? Mau tinggal di dunia terus? Emang bisa? Cari uang sampai lembur di waktu muda, di waktu tua? Apa masih bisa kerja? Wallahua’lam.

Intinya setinggi-tingginya belajar dunia, tinggikan lagi belajar akhirat. Ingat lagi bahwa ada kehidupan setelah dunia.

Wassalam, dari aku yang rindu postingan spiritual.











Minggu, 20 Maret 2016

Farah dan Mantel Inspirasi

Assalamu’alaikum....Halloooo, gue nulis lagi...ada apa dengan gue? Kok ngadat ngeblog? Hehehe, sok sibuuuuk. Dan sebenarnya malas ngeblog....gak boleh malas-malas ya...
Yak cukup kangen-kangenannya.

Oke, hari ini lumayan lengang, dan gue berniat kuat untuk ngeblog. Setelah,,,,ah sudahlah. Dan postingan terakhir gue tentang tugasnya Prof. Berlin kan..heheheh, akhirnya judul gue diterima walau harus ada yang direvisi lagi. Ini bukan judul thesis gue, tapi tugas pembuatan judul thesis untuk mata kuliah riset kuantitatif. Dan gue sempat janji untuk posting tugas gue kan, maaf gak bisa tepati ya. Karena ternyata kurang asik aja rasanya klo diposting. Mendingan kita ngomongin hikmahnya aja hehehe.

Berbicara tugas ini, ada beberapa teman gue yang sudah diterima beberapa kali tugasnya oleh prof kesayangan kami itu. Namanya Farah. Salah satu teman yang paling dekat sama gue di kampus. Orangnya lumayan humble, lumayan modis, dan sangat rapih. Tapi suka pake jalan pintas, hekehekhekeh. Gue harap dia baca postingan gue yang ini. Biar ada manis-manisnya gitu (iklan lemineral).

Ngomong-ngomong tentang Farah, lumayan ada beberapa hal yang bisa membuat gue termotivasi dari beberapa yang dia punya. Salah satunya mantel hujan ehehekekkek. Yup, aku terinspirasi beli mantel hujan yang bahanya plastik asoy dan untuk bagian lengannya menggunakan karet gelang biar rekat di pergelangan dan gak kemasukan air hujan. Kebayang gak sama kalian itu mantel yang gimana? Kalau penasaran coba cari aja di indomaret atau alfamidi, ingat yang harganya cuma 13ribuan. Ingat ya 13 ribuan, atau mungkin tahun depan naik jadi 15ribu.

Sebagai orang yang rapih (si Farah), termasuk managemen peralatan perangnya, alias perlengkapan alat tulis (printilan kantor), pembagian kantongan hape, charger, kosmetik, buku (isi tas), sarung tangan masker helm dan mantel (printilan naik spd. motor) maka apapun yang terjadi di jalanan semua bisa teratasi karena sudahlah amat lengkap apa yang ada di tasnya dan dalam jok keretanya. Yaitu, salah satunya mantel inspirasi.

Pernah waktu itu kita pulang ngampus bareng, dan hujan selebat-lebatnya. Kita berhenti di pinggir jalan untuk pake mantel yang sebelumnya ditawarin Farah. Aku pikir pasti bakal ribet pake mantel yang selebar-lebar tiker terus terbang-terbang menghalangi pandangan ke spion. Sampe bolak-balik mikir apa iya mau pake mantel. Secara waktu itu yang bawa kereta (sepeda motor) gue. Dan gue adalah orang yang paling gak mau ribet, takut bahaya di jalan tapi hujan selebat-lebatnya memaksa gue harus melihat isi jok kereta Farah.

Farah pun ngeluarin si mantel inspirasi. Ada dua. Warna hijau dan biru klo gak salah ingat, Farah ngasih aku yang biru, dan dia sendiri ambil yang ijo. Gile nih anak, persediaannya lengkap banget. Awalnya gue ketawa (dalam hati) ini apa gak koyak ya. Secara plastik asoy, tipis beud. Gua takut waktu makeknya. Gua bingung gimana makeknya. Akhirnya Farah dengan cepat mencontohkan tutorial memakai mantel inspirasi. Oooh, ternyata mantel agak kita gulung ke bagian badan atas lalu tangan kanan kiri dimasukkan, dan terakhir bagian kepalanya belakangan. Gue mau ketawa lagi waktu liat bagian pergelangan tangan gua rekat karena ada si karet gelang, setelah gue terawang pake mata,,,oh karet gelang, kapan nih karet putusnya ya. Dan gue takut gerak yang terlalu ekstrim, mengingaat bahannya yang tipis.

Akhirnya kita lanjutkan perjalanan sampai pulang ke rumah. Karena mantel masih basah, jadinya mantel nginap di rumah gue beberapa hari sampe kita ketemu lagi dan ngembaliinnya.

Di rumah gue bingung bukanya gimana, pelan-pelan banget, secara Farah gak nyontohin tutorial bukanya gimana. Tapi karena IQ gue gak jongkok-jongkok amat, akhirnya mantelpun terlepas dengan mantra “Alohomora”,,,,becanda. Dan gue merasakan manfaatnya guys. Sebagai cewek motor, alis penggunaa sepeda motor tapi gak mau pake mantel selebar-lebar tiker pas hujan, lo bisa pilih mantel inspirasi ini. Praktis, gak ganggu pandangan spion, gak terbang-terbang, dan harganya terjangkau. Kenapa gue bilang praktis, karena setelah kering, lho bisa lipat dia serapih mungkin dan letakan di jok gak pake makan tempat. Itu yang paling gue pertimbangkan untuk bisa  memilikinya. Ciyeileh.

Jadi sempat gue berencana mau nyuri mantel inspirasi ini dari si Farah, siapa tahu dia lupa dan mantel itu jadi milik gue. Kwkkwk kok jadi ekstrim gitu ya pikiran gue. Tapi minggu depannya kita ketemu dan hati gue berkata, “Let it go,,,let it go...”. si mantel inspirasi pun kembali pada tuannya.

Lipatannya bisa segitu kecilnya dibandingkan dengan
nano spray.  Lumayan praktis dibawa kemana2.
Nah, itu sampulnya, biar gak bingung nyarinya.
gue dapat yang gak berkaret tangannya.
Farah yang peke topi sambil melet2 gak jelas.
ini akun ignya
Di musim hujan kemarin, gue akhirnya punya mantel inspirasi. Gue beli di alfamidi dekat rumah dengan harga 13ribuan, hasil informasi dari Farah. Sebagai ikhtiar kalau saja diterpa hujan, gue gak kebasahan lagi karena ada mantel inspirasi. Tapi sampai sekarang belum jadi-jadi gue pakai karena musim hujan sudah selesai. Dan sekalinya kemarin hujan, eh mantelnya gak gue bawa ketinggalan di rumah waktu nyuci kereta. Hahahha

NB: Klo lo mau beli mantel ini please jangan tanya sama mbak-mbak SPG, “Mbak, mantel inspirasinya di rak yang mana ya?” please jangan begitu, itu cuma istilah gue aja ‘mantel inspirasi’. Cari di rak bagian mantel ada tuh ketemu, klo bingung yang mana, liat aja harganya. Yang murah!


Wkkkk, itu dulu deh, kan gak jadi lagi cerita tentang tugas Prof Berlin. Sekian, gue Lulu baca terus postingan selanjutnya. Yang mau komen silakeun. Wassalam.


Jumat, 19 Februari 2016

Kegalauan Malam Ini

Hari ini aku galau. Susah move on. Beneran. Tapi di satu sisi aku bertanya-tanya kok bisa ya aku galaunya kebangetan gini ya. Sebelum ke toilet ingat itu, saat di toilet waktu siram-siram eh masih ingat, sampai keluar toilet pun ingat itu lagi.
Kenapa? Kenapa ya Allah? #lulu,,,please jangan lebay.

Kita udah tiga kali task tentang teori tapi belum ada yang diterima. Dan kalian yang satu alumni pasti tau apa yang dirasakan mahasiswa semester dua Linguistic saat dapat mata kuliah riset metodologi kuantutatif. Dan aku janji akan ngepublish apa task yang kami kerjakan ketika entar tugasku diterima. Kalau kalian tunggu-tunggu ternyata aku gak publish juga berarti ya,,,aku belum lulus.

Bagi yang baca curcol ini masih sampai paragraf diatas lalu nebak ‘ni anak pasti mau ngejelek-jelekin dosennya ni...’ salah besarlah. ‘ni anak mau cari muka sapa tau dosennya baca...’ gak mungkin. Gak mungkinlah dosen gua baca. Emangnya ini makalah.

Ya gua bertanya-tanya aja dalam hati, ‘kenapa sampai task tiga juga belum bisa bener ni kerjaan.’ Dan tiba-tiba ada jawaban menggelitik kuping gua, ‘kalian jangan mengerjakan tugas H-1, H-3 pun jangan, kalau bisa H-7. Gitu sampai di rumah langsung dikerjakan.’ Ya! Ketahuan...ketahuan kan...
Minggu depan masuk task iv, aku harus selesaikan semuanya dengan benar dan paham. Terkadang sebagai orang normal, bukan nilai yang mau dikejar, tapi kenapa ada kendala memahami, atau susah menganalisis perintah, ada apa? Ada apa?  
________________________________________________
________________________________________________
________________________________________________
­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­_______________________________________________

Sory ya dianggurin. Ternyata wifi nya nyampe juga ke kamar. Jadi tadi nonton youtube bentar.
Dan besok giliran masuk Prof. Amrin, yup konsentrasi lagi untuk Discourse mata kuliah favorit gua.
Tapi selalu ingat, “Dunia dan Akhirat itu umpama rumput dan padi, tanam padi rumput kan tumbuh jua, tetapi tanam rumput takkan tumbuh padi.”
Minggu wajib hadir ngaji, kajian Fiqih, Tasauf dan Tauhid. 

Semangat!

Senin, 04 Januari 2016

Kegelisahan Menyukaimu

Gegara Single showed up di bioskop dan banyak meraup penonton, aku yakin bertambah pula yang kepoin Raditya Dika. Ada yang baru mulai ngefans alias suka Raditya Dika, ada yang dari dulu udah suka, ada yang dulu suka lalu gak suka dan sekarang suka lagi, ada yang jadinya saling suka karena sama-sama suka Raditya Dika.

Biasanya orang-orang ini akan ketik nama Raditya Dika di mesin pencarian, baca dan nonton semua tentang Raditya Dika. Kepoin ig-nya, gak hanya dia tapi pacar dan keluarganya. Mention-mention di ig atau twitternya dia. Cuih! Sama kayak aku waktu dengar Michael Jackson meninggal, tetiba aku jadi suka banget dan mulai ngedownload gratis lagu-lagunya waktu masih kecil sampe udah setua itu.

Dan Raditya Dika? Aku termasuk kategori yang dulu suka lalu gak suka dan sekarang suka lagi. Tapi agak dibold lalu gak suka gak seekstrim itu katanya sih, maksudnya ya karena gak begitu jadi bahan konsumsi waktu itu jadi sedikit terlupakan.

Terakhir kali aku mention bang Dika tadi pagi. Gak sengaja aku liat background image twitter eh kok sama-sama gambar keyboard ya, bedanya bang Dika mesin tik dan aku keybord pc. Mungkin itu yang membedakan siapa yang lahir di masa kontemporer (bang Dika) dan yang lahir di abad kejayaan #eh.

Mulailah aku cari-cari kesamaan sama bang Dika. Sama-sama blogger, sama-sama pernah jadi Pemred suatu majalah. Sama-sama pernah mengajar bahasa Inggris di bimbel. Dan sama-sama,,,,jombl....bl...blo...eh gak ding bang Dika bentar lagi nikah, aamiin, ciyeeee.

Tapi please, samanya background image twitter itu bukan karena aku ngefans sama bang Dika. Tapi gambar keyboard melambangkan aku si suka nulis. Bahkan aku sama sekali gak ngeh kalau background bang Dika juga itu. Tolong lah ya!

Sebenarnya aku malu ngaku ngefans sama bang Dika. Malu lah. Malu kali. Tapi untuk teman-teman yang tau aku seperti apa pasti gak heran kalau aku diam-diam suka konsumsi humor Raditya Dika dan bahkan mencuri karakter bang Dika di beberapa kesempatan.

Kegelisahan aku adalah ketidakmengertian mereka akan arti sebuah apresiasi.

Aku begitu mengapresiasi pencapaian bang Dika. Bukan semat-mata membuat orang tertawa, ngakak, bodoh, banyak tau tentang pacaran, bangga punya mantan. Bukan! Bahkan kalau itu jadi tolak ukurnya aku siap-siap dikucilkan dari agama. Tapi kerja keras, konsisten, apa adanya, tulus, jujur, tekun, dan mau belajar. Yap, itu yang aku liat dari seorang Raditya Dika.

Aku sendiri gak berusaha menjadi komedian. Atu open mic diacara maulid-an. Menceritakan mantan-mantan, walau kenyataannya gak ada emang. Atau menyelipkan kata-kata kotor dan kasar di beberapa tulisan biar dianggap lucu. (Kalau pun ada aku khilaf). Gak. Aku gak punya niat itu. Aku malah berfikir bagaimana semangat juang bang Dika bisa dicuri dan ditransformasikan sesuai dengan akunya. Jadi salah besar lah kalau ada yang ngira aku bakal begini begitu gara-gara aku nonton Single, Malam Minggu Miko, dan Stand up comedy.

Dan kegelisahan lainnya adalah ketika mungkin tanpa sengaja aku update tentang Raditya Dika. Image, ya image. Manusia sering sekali membatasi pemikiran lewat image yang hendak dibangun. Seharusnya aku gak begitu. Aku terlalu makan mati tentang image. Selalu ingin dinilai baik. Sampai mau apa-apa mikir beribu kali tentang postingan. Bahkan mau ngelike status bang Dika aja takut, gara-gara yang dilike bakal grow up di beranda orang lain dan tau aku suka diam-diam komenin status bang Dika. Hahah gokil. Ini kayaknya aku udah mulai parno.

Bukan, bukan aku gak ngefans sama ulama-ulama. Para waliullah. Cerita para rasul dan sahabat. Ya jelas lah aku ngefans. Itu jauh posisinya lebih atas dibanding kekaguman aku dengan makhluk Allah lainnya. Jadi ini bukan semacam ghozul fikr, propaganda atau apalah. Ini hanyalah kegelisahan wkwkwkwk. Dan aku mulai parno.

Dan aku harap ada yang membaca ini. Biar orang-orang gak suka judge tanpa verifikasi. Gak enak banget, dikit-dikit update salah, baru liat timeline udah ngerasa hina aja, baru liat feed udah  mau bilang ‘wah psikopat ni orang’ atau ‘wah parno banget ni orang’, gak enak banget kan. Kalau aku baca bukunya mbak Asma yang Salon Kepribadian: Jangan Mau jadi Muslimah Nyebelin. Aku harap gak para akhwat la yang harus baca, yang ikhwan juga. Dan ternyata banyak juga ikhwan nyebelin, gak hanya nyebelin buat sesama ikhwan, parahnya nyebelin buat akhwat juga. Ya kan...

Oke, inilah diaryku. Selamat membaca.
(Rasain lho udah baca sampe terakhir)

Hehehe, salam dari Lulu yang suka becanda :P


Rabu, 30 Desember 2015

2015 Untuk Aceh


Perjalanan menuju Banda Aceh
2015 menjadi tahunnya Kota Banda Aceh versiku. Di tahun ini Allah memberikan aku kesempatan untuk bisa menginjakkan kaki di kota yang dijuluki Serambi Mekkah. Dan tulisan ini salah satu wujud syukur aku karena satu per satu destinasi yang ingin aku singgahi terwujud sudah. Sebelum 2015 ini pun aku sudah bermimpi akan mengunjungi kota ini dan Alhamdulillah awal dan akhir tahun bisa menghabiskan waktu disini.

Mudah-mudahan destinasi selanjutnya, yes Nias akan dikunjungi pada tahun 2016 ya. Aamiin.

Dua kali menyambangi Banda Aceh, sangat, sangat berkesan. Di awal dan akhir tahun. Dengan suasana dan keadaan yang berbeda. Aceh benar-benar memberikan kesan tersendiri bagiku. Semoga 11 tahun pascatsunami menjadikan Aceh sebagai kota tanggap bencana dan kota role model bagi kota lain yang hendak memberlakukan hukum Syari’at.

Di awal tahun lalu mengunjungi Banda berbeda dengan kunjungan akhir tahun ini. Maret lalu, kunjungan ini pure temanya Serambi Mekkah. Mengunjungi mesjid-mesjid bersejarah. Ziarah ke makam para Waliullah. Tour guidenya pun tak tanggung-tanggung, salah seorang ulama kota Medan. Sepanjang jalan bersholawat di bus. Saling mengingatkan niat sholat Jama’ Qoshar. Berhenti untuk memperbaharui wudhu dan sholat di mesjid.

Dan aku merasa aku sedang umroh. Dalam artian berkunjung. Apalagi begitu menginjakkan kaki di Baiturrahman. Subhanallah, luar biasa. Tahajud dan shubuh disana aku anggap aku benar-benar sedang berumroh di serambinya kota Mekkah. Dan berdoa dalam waktu dekat bisa berkunjung ke Mekkah. Aamiin.

Adik bungsuku, nyokap dan aku berfoto di depan Sempati Star bus
Hihihi, tapi sedikit berbeda di akhir tahun ini. Aku pergi bersama nyokap dan adik bungsuku. Aku yakin tujuan utama kami adalah liburan wkwkwk. Dan bertetapatan adik laki-lakiku yang satu lagi kost di daerah Cadek, Banda Aceh, yup dia kuliah di Unsyiah jurusan Kedokteran Hewan. Hayooo sapa yang mau berobat, silakeun. Jadilah kami ingin mengunjunginya dan sambil minum air. Alias menyelam sambil minum aer.

Berbekal pengalaman pernah ke Banda Aceh, aku punya niatan untuk mengajak nyokap merasakan ibadah di Mesjid Raya Baiturrahman. Dan tentunya keliling Banda. Enaknya disana tempat wisata tidak pernah memungut sepeserpun uang masuk tempat wisata. Alias gratis. Mau masuk tempat wisata apapun gratis. Ya masuk aja. Kecuali om dan tante mau makan, minum, menginap, beli oleh-oleh ya bayar lah. Jadi Cuma modal ongkos aja brother. Gak seperti Medan yang apa-apa pake uang masuk. Hehehe, tapi aku tetap cinta Medan.

Begitu sampai Banda, mata mamak beranak ini pandang-pandangan. “Nanggung ya kan, udah di Banda gak nyebrang ke Sabang” keluh mamak. “Woooooo….” sorakku. “Ke Sabang lah kelen,” kata adik laki-lakiku yang kost disini. “Ya udah klo mau ke Sabang,” kataku. “Woooo….” gantian mamakku bersorak. “Yaudah besok kita ke Sabang, keliling kotanya setelah dari Sabang aja.” saranku. “Woooo, dia yang semangat kali kayaknya.” Kata mamakku.  [Ini percakapannya agak didramatisir, jangan terlalu dipercaya, yang aslinya gak gini, lebih parah!]


Pelabuhan Ulee Lheue
 Dan malam pertama di Banda kami benar-benar istirahat. Menyiapkan energi unutk keliling Pulau Weh, kota  Sabang.

Awalnya kami agak pesimis untuk bisa ke Sabang. Mengingat ini tanggal merah yang panjang, dan dengar isu orang tiket sudah habis, gak bakal bisa nyebrang. Sabang rame banget, pasti klo mau nginap udah dibooking semua. Begitulah omongan orang-orang. Jadi kami pasang tagline nya “Kalau dapat tiket syukur, kalau gak ya keliling Banda ajjah.” Kami pun pasang ancang-ancang pagi sekali harus sudah ke pelabunhan Ulee Lheue. Jadi malam itu kami tidur cepat.
Nyokap ngantri sambil narsis

Paginya pukul 7.30 kami sudah di Ulee Lheue. Kita buru-buru ke loket untuk beli tiket. Loket belum buka tapi sudah beberapa orang mengantri. Nyokap pun gak mau kalah. Saya suruh dia antri dan saya keliling pelabuhan foto-foto. Wkwkwkwk. Setelah satu jam mengantri loket baru buka. Kami pesan tiket kapal cepat 85k, waktu tempuh 45 menit.
Alhamdulillah dapat tiket

Nah, masuklah ke perjalanan yang paling berkesan untuk aku dan nyokap. Kita kedatangan Guest Star. Bintang tamu. Kalau gak ada beliau kita bingung juga mau ngapain di Sabang. Namanya Sidik. Kelahiran 92. Orangnya humble, luas pengetahuan, dan religious sekali. Siapapun di dekatnya pasti jadi sasaran percakapannya. Orangnya gak bisa diam. Lulusan STAN stambuk ’10. dan dia asli Helvetia, Medan. Sesama orang Medan, tapi jumpanya di Sabang.

Sidik ini ke Sabang sendiri. Waktu antri tiket dia tepat di belakang nyokap.  Selama mengantri terjalinlah percakapan diantara mereka. Karena dia sopan dan mau bergaul dengan emak-emak, jadilah dia ikut rombongan kami. Aku, nyokap, adik bungsuku, dan Sidik.

Begitu sampai di Sabang, kami terpisah beberapa menit. Aku, nyokap dan adik bungsu. Lalu Sidik, entah dimana. Karena biasanya kalau pergi jalan-jalan taunya cuma diboncengan, begitu nyampe tinggal menikmati pantai atau sungai yang dikunjungi. Hari itu kami stuck. Bingung. Mau ke Iboih tapi hendak naik apa? Mau ke Kilometer Nol harus nyewa kendaraan apa? Kami singgah ke warung makan untuk diskusi dan maping via google dahulu.

Sambil diskusi aku ngeliat Sidik dari kejauhan, dan daripada bingung sendiri aku lambain tangan ke arah Sidik, siapa tau bisa bantu. Sidik gabung dan akhirnya kami putuskan menyewa dua kereta untuk keliling Sabang, Pulau Weh. Sebenarnya tanpa Sidik, kami pun bisa sewa kereta dan pergi hanya bertiga. Tapi, tambah satu pria dewasa menambah kepercayaan diri untuk keliling hutan dari pada satu orang tua tambah perempuan dewasa tapi kayak anak-anak, dan satu anak laki tapi ingusan, bisa ditebak waktu jumpa gerombolan monyet di tengah hutan akan terjadi pemusnahan ekosistem monyet di Sabang.

Iboih belok kiri
Mengelilingi Sabang dengan kereta atau sepeda motor adalah hal paling baru yang kami semua rasakan. Wangi pohon, tanah yang jarang ditemui di kota membuat aaahhh indahnya, indahnya surga dunia. Pohon lebat di kanan kiri, warna hijaunya pun membuat liburan kali ini terasa sangat menggantikan hari-hari kerja kami dahulu. Sesekali landscape lautan timbul di balik-balik pepohonan. Kombinasi laut dan hutan pegunungan membuat berkali-kali tasbih terucap. Dan aku merasa senang nyokap bisa menyaksikan ini semua.

Sampai juga di Kilometer Nol
Sebelumnya, nyokap selalu melarang untuk bepergian via kereta ke luar kota. Tapi tanpa sepengatahuannya aku lakukan. dan kali ini aku tetap lakukan tanpa larangan nyokap. Kami senang sekali bisa boncengan di tengah hijaunya hutan, keloknya jalan, di Sabang pula. Rizky, adik bungsuku dibonceng Sidik.

Tujuan kami Cuma dua, Kilometer Nol dan Iboih. Kalau bisa kami pulang hari. Karena Sabang penuh banget manusia. kalau pun nginap kami gak ada persiapan untuk itu.

Senja di Cadek Permai
Aduuuuuh panjang ya,,,udah dua halaman lewat. Capek nulisnya. Walau masih banyak lagi hal berkesan yang belum diceritain. Sila cari kesannya sendiri dengan mengunjungi kota ini. Ada banyak view luar biasa yang bisa dikunjungi. Aceh ini di kanan kiri depan belakang dikelilingin laut, gunung. Yang mau merasakan keriligiusan kota ini kunjungi mesjid-mesjid bersejarah Baiturrahman, Baiturrahim dll, lalu makam para waliullah. Greget deh, bikin jasmani dan rohani kita dicharge kembali. Dapet banget liburannya. Lalu cerita si Guest Star, Sidik juga belum banyak diceritain.keliling Banda juga belum diceritain. Pendapat aku tentang oleh-oleh handmade, system transpiortasi dan lainnya lain kali lah ya…pokoknya recommended banget. Aku yakin pada penasaran. Sila googling dan buat list jalan-jalan kamu untuk 2016 ya.

Tunggu review aku lagi tentang kota ini ya. Para pembaca pada marah wkkwkwk “Cerita kok setengah-setengah…”