Harus kita sadari dimanapun dan kapanpun kita berada
Setan tak akan membiarkan manusia berbuat baik. Sekalipun manusia itu sedang
dalam keadaan iman yang tinggi maupun rendah. Setan akan senantiasa mencari celah,
mencari kelemahan seseorang sampai akhirnya manusia ini terperangkap.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengemukakan enam
tahapan yang dilalui setan dalam menyesatkan dan memperdaya manusia.
Tahap pertama ialah ajakan untuk kafir dan musyrik
kepada Allah. Kalau yang diajak itu muslim-muslimah sejati, yang iman di dalam
hatinya teguh tak tergoyah, tidak dapat dikafirkan apalagi dimusyrikan, maka
setan melangkah ke tahap yang kedua.
Pada tahap ini, setan menyesatkan manusia melalui
godaan untuk ngelakuin hal-hal yang termasuk bid’ah. Kalau godaan mereka dilakukan
kepada orang yang kokoh dan istiqomah
mengikuti ajaran Rasulullah Saw., maka setan melangkah pada tahap yang ketiga.
Yaitu, menjebak orang Islam agar terjerumus melakukan dosa-dosa besar. Kalau
yang bersangkutan juga memiliki iman yang teguh sehingga godaan itu sama sekali
tak membawa hasil, maka setan tidak akan pernah berputus asa dan ia segera
beralih ke tahap keempat.
Pada tahap ini, setan akan menjebak manusia agar ngelakuin
dosa-dosa kecil. Dan jika pada tahap ini manusia juga tidak tergoda, maka setan
akan menggunakan strateginya yang kelima, yakni menyibukkan manusia kepada
masalah-masalah yang mubah (boleh). Seseorang yang menghabiskan waktunya untuk
urursan-urusan yang mubah, maka dampaknya mereka akan lupa menunaikna perbuatan-perbuatan
yang dicintai Alloh. Misalnya, frekuensi membaca alquran lebih sedikit daripada
aktivitas menonton film.
Kalau tahap kelima ini juga gagal, maka setan akan
melanjutkannya ke tahap keenam. Yaitu dengan menyibukkan manusia dalam
urusan-urusan yang kurang beremanfaat atau yang manfaatnya lebih kecil sehingga
dampak persoalan yang lebih penting dan yang lebih baik jadi tertinggalkan dan
terabaikan.
***
Nah,
sering kali manusia cepat merasa puas dengan pencapaian iman yang secara kasat
mata menurtunya telah ia capai. Tapi ketika manusia itu merasa bahwa imannya
sudah tinggi maka setan pun datang.
Siangnya si manusia menghitung-hitung kesalahan yang
ia perbuat kepada orang lain. Rasa puas pun ada ketika frekuensi perbuatan
salah berkurang. Ketika sore hari menjelang, rasa hati lelah menjaga diri dari
perbuatan buruk pun lolos, saat itulah setan datang mendekat.
Manusia yang mempunyai hobi mendengarkan musik kalau
bisa sesegera mungkin menyimpan headset-nya
jauh-jauh. Karena musik bisa melalaikan, apalagi bila lirik lagu yang didengar
juga mempunyai makna yang kurang baik.
Tapi siapa sangka, entah dapat teori dari mana
mendengarkan musik merupakan salah satu cara yang bisa menenangkan hati.
Jadilah si musik menemani relaksasi setelah seharian melakukan banyak kebaikan.
Selera musiknya pun berbeda, ia lebih memilih yang
gebukan drum-nya keras, string yang melengkin di telinga, serta
punya makna lirik yang tak karu-karuan. Diputar berulang-ulang, karena
mendengarkan musik juga tidak bisa sekali dua kali. Terus berulang-ulang dan
diulangi lagi. Bahaka mencari lagu-lagu trend
terbaru. Insya Alloh musik banyak
mempengaruhi alam bawah sadarnya untuk membelot.
Sampai begitulah setan tak pernah mau mengalah.
Setan akan mencari celah-celah kelemahan manusia, sampai manusia benar tak
berdaya.
Anda pernah merasakan? Itu bagus, karena ‘pernah
merasakan’ berarti Anda sadar bahwa ada yang tidak beres. Ketika manusia sudah
merasa tak beres, segeralah kembali pada-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar